Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Baginda Nabi Agung Muhammad SAW.
Hi… Perkenalkan saya zennn
Saya bingung harus mulai dari mana, tapi ini sedikit cerita dari perjalananku dalam mencari nafkah.
Orang bilang ketika umur 17th atau SMA bakat kita bakalan kelihatan, tapi nyatanya sampai lulus kuliah saya masih belum tau bakatnya dimana? Entahlah mungkin karena kurang bergaul atau apa yang jelas, setelah lulus kuliahpun saya masih belum tau harus kemana, gelar S1 yang saya dapatpun saya tidak menguasainya.
Hampir satu tahun setelah lulus ijasah saya juga tidak laku, sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengadu nasib ke Ibu kota.
Jakarta ternyata tidak seperti yang saya bayangkan, panas, padat, macet, banyak polusi dan sebagainya…
Pertama di Jakarta saya numpang tinggal di tempat kerja temenku, di sebuah mess para pekerja matrial, setiap hari saya dipinjamkan motor untuk keliling mencari kerja,
Meski lowongan kerja di Jakarta banyak, tapi belum ada satupun yang bisa menerima saya… Sampai akhirnya saya mendapat tawaran disalah satu perusahaan asuransi untuk menjadi telemarketing dengan kontrak 1 tahun. Tentu saja ini menjadi peluang untuk tidak merepotkan temenku lagi
1 hari menjelang offer letter saya tidak yakin untuk hidup di Jakarta selama 1 tahun dengan posisi yang bertentengan dengan sifat yang cenderung intovert. Tanpa mikir banyak saya memutuskan untuk ijin pulang kampung.
Mendengar saya mau pulang kampung beberapa orang ada yang menitipkan uangnya padaku untuk dikasihkan keluarganya di kampung, sayapun tidak bisa menolak
Pukul 19.00 saya bergegas menuju ke terminal (kalau tidak salah kampung rambutan) sebagai orang yang belum pernah, sebelumnya sayapun sudah mencari informasi bus mana yang akan saya tumpangi, fyi waktu itu belum ada pemesanan tiket online seperti sekarang.
Sesampainya di terminal sayapun turun dari angkot dan langsung dikerumuni orang orang seperti tukang ojek dan calo calo bus yang sedang menunggu penumpang.
Dengan membawa tas carier 60L sayapun di tarik tarik sama 2 orang, yang saya pikir dia adalah calo bus.
Bang mau kemana bang..?
Lagi cari bus dewi sri bang? Jawabku…
Oh iya sini beli tiket dulu di dalam.
Sayapun mengikutinya sambil dibuat buru buru,
Seperti di terminal pada umumnya, sayapun disuruh membayar tiket retribusi masuk terminal dan dibawa ke both penjualan loket. Tapi kondisinya semua loket penjualan sudah kosong, kemudian kedua orang tersebut menyodorkan sebuah pisau, disini saya baru sadar, saya gemetar tidak tahu harus berbuat apa, hanya mengikuti perintah dua orang tersebut untuk memberikan semua uang yang ada di dompet yang dimana hanya tersisa 150rb yang akan di gunakan buat bayar bus.
Mungkin ini yang dimaksud Jakarta lebih kejam daripada Ibu tiri.
Saya bersyukur preman itu hanya fokus pada isi dompet saja, karena disaku saya masih ada uang titipan yang nominalnya jauh lebih banyak.
Setelah keluar terminal saya baru menemukan calo bus yang asli dengan seragamnya, akhirnya saya pulang kampung dengan menggunakan sebagian uang titipan tersebut.
Sesampainya dirumah istri dari orang yang menitipkan uangnya ke saya datang kerumah, dengan berat hati sayapun bilang kalau sebagaian uangnnya saya pakai, karena orang tuaku juga sama sekali tidak punya uang untuk mengganti, jujur saya sama sekali merasa tidak bertanggung jawab, saya malu.. tapi realitinya keluargaku sama sekali tidak ada duit.